Tak perlu berpusing-pusing dengan bahasa c++ atau membuat otakmu berputar-putar lalu meledak saat mempelajari ilmu akutansi bila kalian ingin tau teori apa yang paling cocok diterapkan di muka bumi. Karena pengalaman hidup akan menuliskannya untukmu, hidup memang Universitas Terbuka yang memiliki ilmu paling lengkap di planet biru ini atau bahasa kerennya University of Life.
Dan, kejadian ini menimpaku. Tepatnya, saat aku naik tingkat menjadi senior belum lama ini. Lalu, seperti kebanyakan senior lain yang punya ideologi cinta adalah segalanya, perburuan untuk mencari pasangan anak junior pun dimulai. Termasuk aku dan sahabatku, kita bergerilya mencari wanita ideal. Sahabatku yang satu ini terkenal pendiam, dia takkan bertanya bila tidak ditanya duluan, dia tidak akan menyapa bila tidak disapa juga dia selalu memendam kesenangan dan kesusahan untuk diri sendiri tanpa mau membaginya kepada orang lain. Mungkin memang dia menganut filsafat bahwa "diam itu emas" yang dalam kamus hidupku itu adalah kemahatololan dan filsafat yang ortodoks.
Nah, karena filasafatnya itu pula dia tidak pernah menceritakan gebetannya sampai akhirnya ku bertanya dan tak kusangka gebetannya adalah gebetanku. Celakanya setelah pertanyaan itu dia selalu menanyakan cara mendekati sang pujaan dan sayangnya aku malah berbuat bodoh dengan mengajarinya trik dan tips mendekatinya padahal aku juga melakukan pendekatan intens pada wanita itu karena ku tak mampu menghalau racun-racun cinta yang merasuk ke pembuluh darah dan menyerang sistem kerja otak kiriku.
Uwh..bisakah kau bayangkan betapa jahatnya aku kawan!!!????
Hari berganti hari, aku semakin tak nyaman dengan keadaan ini apalagi sang sahabat sempat memergokiku ngobrol berduaan dengan target. Akhirnya, aku tak tahan lagi dan akan kuungkapkan semua pada sahabatku agar semunya jelas walau dengan resiko dia akan memusuhiku seumur hidupnya.
Dan hari itu pun tiba, aku dengan penuh rasa waswas mengutarakan padanya, ku buat nada bicaraku sebijaksana dan sediplomatis mungkin seperti caleg yang sedang berpidato di depan pendukungnya. Sangat elegan, elegan sekali. Lalu, dia tertegun sejenak, aku sempat melihat segaris kekecewaan terbersit di wajahnya. Aku sadar aku telah menghancurkan harapannya, menghancurkan semua indah mimpi-mimpinya tapi aku tak melihat air mukanya berubah menjadi terpuruk, tidak ada sama sekali guratan itu. Benar saja, sedetik kemudian dia tersenyum dan dengan penuh ketulusan mengucapkan "Tak apa kawan, aku sudah tau. Teruskanlah, jangan pedulikan aku." Nafasku seakan terhenti, jantung berhenti berdetak dan ajaib tiba-tiba jiwa ragaku seperti dirongrong beribu-ribu perasaan bersalah lalu menjatuhkanku dalam lubang keterpurukan, aku jatuh terpuruk dalam sekali.
Berhari-hari, bermalam-malam sampai-sampai tidurku tidak nyenyak lagi atau bahkan tidak tidur sama sekali aku memikirkannya, memikirkan kenapa ada orang yang masih bisa tersenyum dan berkata tulus saat orang tersayangnya akan diambil orang lain. Pertanyaan simpel memang tapi bisa gila Marisol memikirkannya karena percayalah kawan jawabannya sungguh tidak mudah.
Tapi, akhirnya aku menemukan jawabannya kawan. Jawaban yang tidak kalah simpel dari pertanyaannya yaitu sahabatku menganut ideologi tentang "Teori Keikhlasan".
Yupz, jawabnya hanya teori keikhlasan. Namun kawan, taukah kau teori ini adalah teori paling fenomenal di muka bumi ini bahkan lebih fenomenal dari teori Darwin sekalipun. Teori inilah yang paling cocok unyuk mengarungi samudera kehidupan yang misterius. Karena teori ini akan membawa kalian pada titik sangat percaya pada Sang Pencipta, percaya bahwa hari esok pasti akan ada rencana yang lebih indah daripada hari ini sepahit apapun itu.